HATI HATI DENGAN HARTAMU

 

Dikisahkan tentang  seorang Saudagar, kekayaannya sangat banyak, perusahaan ada dimana mana

Dalam kondisi sakit parah, dia menulis sebuah surat wasiat ditujukan kepada seluruh anak anaknya.
dalam surat wasiatnya,sang Saudagar menulis, Kalau ada anaknya yang mau menemaninya di kubur selama 40 hari maka separoh kekayaannya akan diberikan kepada yg mau menemaninya itu.

Terjadi kegaduhan diantara anak anaknya.mereka semua menolak, bahkan ada yang mengatakan kalau bapaknya sudah mulai  tidak waras.
Saudagar kaya merasa sangat sedih melihat kelakuan anak anaknya, diapun meminta orang kepercayaan yang selama ini setia bekerja dengannya untuk mengumumkan kepada khalayak umum tentang wasiatnya tersebut.

Tersebarlah mengenai surat wasiat itu keseluruh penjuru kota.tapi sudah sekian lama tak ada  yang mau mengajukan diri untuk memenuhi surat wasiat tersebut.
Kabar tersebut sampai juga kepada seorang pencari kayu yang miskin, Karena  miskinnya dia hanya memiliki sebuah kapak untuk menebang pohon lalu memotong motong pohon tersebut menjadi kayu bakar  untuk dijual kepasar.
Dia datang kepada keluarga Sang Saudagar , dengan mengajukan beberapa persyaratan.

Karena  tidak ada pilihan lain maka syarat syarat petani miskin itupun disetujui.

Hari kematian sang saudagar terdengar keseluruh kota, juga sampai ke telinga Sang Petani.
Petani miskin pun siap menemani Sang konglomerat denganminta  dibuatkan sebuah lubang disamping kubur, yang dilengkapi dengan beberapa  fasilitas, dan selama 40 hari tidak  keluar dari lubang tersebut. Tak lupa petani itu membawa kapaknya.

Setelah prosesi pemakaman selesai,   para pengantar jenasah telah meninggalkan kuburan sejauh 7 langkah, datanglah Malaikat Kubur.
Sang Malaikat melihat ada sesuatu yang tak lazim, mereka tidak mendatangi Sang Saudagar, tapi mendatangi si Petani.

Malaikat                : “ Hai siapa kamu , ada kepentingan apa kamu disini?”
Petani                   : “ Saya seorang Petani, saya telah terikat perjanjian dengan keluarga si mayit untuk   menemaninya disini selama 40 hari” , Sang Petani menceritakan semuanya secara detail

Malaikat           : “jadi kamu Petani Miskin, dan ingin dapat hadiah itu ?”
Petani                   :  “Ya..” jawab petani
Malaikatpun pergi meninggalkan petani  dan Mayat Sang Saudagar.

Besoknya Sang malaikat datang Lagi.
Malaikat : “ Darimana kapak yang kamu bawa itu”

Petani : “ ini Saya beli dengan uang saya sendiri, dengan kapak ini saya menjual kayu bakar kepasar”

Malaikatpun pergi lagi.
keesokan harinya Malaikat datang lagi masih mendatangi petani dengan mambawa pertanyaan.
Malaikat : “ Apakah kamu memotong motong kayu untuk kayu bakar sama panjangnya ?”
Petani    : “ wah..saya tidak sempat mengukur satu satu dan memang tidak sama panjang “
Malaikat: “ Berarti kamu telah Dzolim dengan kayu kayu itu dan dengan pembeli kayu bakarmu, kamu bermasalah”

Malaikatpun pergi meninggalkan petani.
Keesokan harinnya, Malaikatpun datang lagi menjumpai petani
Malaikat   : “Apakah kayu bakar yang kamu jual itu , kamu ikat ?”
Petani       : “ Ya agar mudah membawanya dan mudah menjualnya saya jual per-ikat”
Malaikat : “ Dari mana kamu mendapatkan tali pengikat itu ? kamu beli atau kamu minta, apakah pemilik tali tadi sudah merelakan kamu memintanya ?”
Petani  : “Saya membuat talinya dari akar akar pohon yang kering, tapi saya tidak tahu siapa pemilik akar pohon itu”
Malaikat : “ Kamu belum mendapat ridho pemilik akar pohon kering, bagaimana kamu berani menjual kayu bakar itu ?, Kamu telah dzolim”

Malaikatpun pergi meninggalkan Sang Petani.
Sang Petani semakin gusar hatinya setiap hari ada pertanyaan dan setiap hari ada saja kesalahan dari pekerjaannya yg dia tekuni selama ini

Hari berikutnya Malaikat datang lagi
Malaikat : “Ketika kamu menjual kayu bakar per-ikat, apakah harganya sama ?”
Petani      :  “ Ya saya menjualnya per-ikat dengan harga yang sama ?”
Malaikat : “ Apakah ikatan kayu bakar itu sudah kamu timbang satu satu ?”
Petani :  “ saya tidak menimbangnya, tapi pembelinya tidak ada yang mempermasalahkan itu “
Malaikat : “Apakah kamu telah menjelaskan kondisi itu kepada para pembeli?”
Petani   : “ Saya tidak melakukan itu “
Malaikat : “Kamu telah berbuat kecurangan, menjual kayu bakar dengan harga yg sama tapi tidak sama beratnya , apakah kamu tega memberi nafkah kepada keluargamu dengan berjualan seperti itu ?. Kamu bermasalah “

Malaikatpun menunjukkan wajah yang tak bersahabat lalu pergi meninggalkan petani .

40 hari yang harus dijalani terasa begitu berat, dia ingin segera keluar dari tempat itu, besok adalah hari terakhir , semoga Malaikat tidak bertanya apa apa lagi.

kesokan harinya Malaikat datang lagi
Malaikat : Kamu selama ini mencari nafkah dengan memakai Kapak, dan kamu membeli sendiri kapakmu itu, darimana kamu mendapat uang untuk membeli kapak itu ?”

Petani   : “ Dulu saya seorang kuli di pasar, saya menjual jasa saya, membawakan belanjaan orang orang , dari situ saya dapat upah, upah itu saya kumpulkan , setelah cukup baru saya belikan kampak ini ‘, petani menjelaskan , tentang asal usul kampaknya.
Malaikatpun pergi meninggalkan petani dengan wajah tersenyum.

di hari yang ke 41 , pagi pagi sekali Petani keluar dari lubang kuburnya, dia naik keatas dengan tangga yg sudah disediakan sebelumnya ,setelah keluar dia melihat banyak orang telah menunggu, dari pihak keluarga maupun dari masyarakat lain.

Ditengah kerumun, Petani itupun berkata dengan lantang  :” Saya tidak berminat dengan separuh harta yang telah dijanjikan kepada saya, ambillah kembali harta itu, biarkan saya menjalani hidup saya seperti sedia kala “

Lalu  petani bergegas kembali kerumahnya.
Istrinya sudah menunggunya di muka pintu, terlihat jelas wajah pucat suaminya.

Sang petani mengandeng tangan istrinya, setelah mereka duduk sang petani bicara
“ Istriku..jangan meminta harta yang lain lagi ya ?”
“ Kenapa Pak ?, kan sudah ada kesepakatan kalau separuh warisan itu  akan jadi milik bapak ?”
Tanya istrinya heran

“Wahai istriku…cukuplah harta kita kapak ini saja, biarlah kita mencari nafkah dengan kapak ini , dan memperbaiki cara berjualan kita,”
”Ketahuilah wahai istriku, di dalam kubur kemarin, untuk urusan sebuah  kapak malaikat menanyai bapak selama 40 hari dan itupun belum selesai, bagaimana kalau harta kita lebih dari ini?, Bapak tak sanggup membayangkannya” .

“Semoga Allah Swt  mengampuni segala kesalahan kita  selama ini”, Sang Petani berdoa dengan lirih

 

 

 

 

.

 

Iklan